Senin, 01 November 2010

Bahaya Abu Vulkanik

Abu vulkanik yang keluar dari letusan gunung merapai dapat membahayakan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lereng gunung merapi. Erupsi (fenomena keluarnya magma dari dalam bumi) gunung merapi akan menjadi ancaman bagi warga disekitar lereng gunung. Tak hanya gumpalan awan panas yang mematikan, tapi juga abu vulkanik yang sangat berbahaya bagi kesehatan.





Abu yang terbentuk selama letusan gunung berapi ini terdiri dari fragmen batuan halus, mineral, dan kaca dengan karakter keras, kasar, korosif dan tidak larut dalam air. Partikel abu sangat kecil sehingga mudah tertiup angin hingga ribuan kilometer. Seperti dilansir dari Geology.com, dalam sebuah letusan gunung berapi, pelepasan material seperti gas dan abu vulkanik panas ke atmosfer bisa mencapai lebih dari 22 km dalam waktu kurang dari 10 menit.

Abu vulkanik terdiri dari partikel yang bentuknya tidak teratur, tajam dan bergerigi. Dengan kombinasi dan bentuk yang tidak teratur itu membuat abu vulkanik bersifat sangat menghancurkan. Setelah abu vulkanik dilepaskan ke udara, angin akan sangat berperan dalam perjalanannya. Gerakan dari letusan gunung ditambahkan dengan turbulensi udara akan membuat abu vulkanik dapat berpindah dengan kecepataan hingga 100 kilometer per jam. Angin juga akan mendistribusikan abu vulkanik ke area yang sangat luas.

Abu vulkanik yang diletuskan dari gunung berapi yang dikenal warga dengan sebutan wedus gembel bisa memiliki temperatur yang sangat panas hingga mencapai suhu 800 derajat celsius (1472 derajat fahrenheit).

Abu vulkanik mengandung silika yang dapat menyebabkan penyakit yang disebut silikosis, yaitu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.
Gangguan Pernapasan Seperti dikutip dari laman volcanoes.usgs.gov, partikel mikroskopis abu vulkanik bisa dengan mudah terhirup ke dalam paru-paru dan menimbulkan masalah pernapasan. Itulah mengapa penting mengenakan masker penutup hidung dan mulut saat berada di lokasi hujan abu vulkanik.
Seseorang dengan bronkhitis, emfisema (penyempitan saluran napas) dan asma disarankan mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan abu vulkanik bisa memperparah gangguan kesehatan.
Risiko lain adalah mengalami gatal-gatal, kulit memerah dan iritasi akibat debu yang ada di udara dan menempel di kulit. Kondisi ini bisa juga diakibatkan oleh kualitas air yang sudah tercemar abu vulkanik.

Debu vulkanik yg terbang tertiup angin yang dikenal dengan hujan abu tersebut menurut Dr. Sunarto, Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, mengandung partikel SiO2 atau kuarsa. Kuarsa adalah mineral yang dikenal sebagai bahan baku utama membuat kaca. Mineral ini memiliki kekerasan 7 (Skala Mohs) atau tergolong sangat keras.

Kalau masuk ke mata dan kemudian diucek-ucek maka mata yang tersebut dapat memunculkan luka atau iritasi yang kemudian bisa memicu gangguan kesehatan mata. Jadi kalau terpapar abu/debu vulkanik sebaiknya jangan di-ucek-ucek tetapi langsung dibersihkan dengan air bersih.

Selain berefek negatif pada mata, debu vulkanik juga menimbulkan gangguan saluran pernapasan atas yang memicu munculnya penyakit ISPA. 
Iritasi Mata Partikel abu vulkanik yang kasar umumnya membuat mata terasa tidak nyaman, bahkan memicu iritasi terutama mereka yang mengenakan lensa kontak. Sejumlah pakar menyarankan penggunaan kacamata biasa.
Selain itu, mereka yang tengah berada di lingkungan hujan abu vulkanik juga diminta tak sembarangan menggosok mata meski terasa sakit, gatal, dan merah. Gosokan tangan dikhawatirkan akan memicu goresan partikel abu di kornea.
Kasus terparah adalah terjadinya peradangan pada kantung conjuctival yang mengelilingi bola mata sehingga mata menjadi merah, terasa seperti terbakar dan sensitif terhadap cahaya.
Anie (08303244003)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar